Pengorbanan Sahabat Sejati
Pagi yang cerah menyelimuti hari Lisa
dan Dina. Hari ini adalah hari pertama mereka menyelesaikan MOS yg diadakan
selama 1 minggu di SMA Harapan Bangsa. Mereka sangat senang karna bisa diterima
di SMA favorit ini. Hanya orang-orang pintar lah yang diterima di sekolah ini.
“Cha (nama panggilan Lisa)..”,
panggil Dina.
“Iya, ada apa?”, tanya Lisa.
“Kamu tau gak nama kakak yang
itu?”, tanya Dina sambil menunjuk ke arah seorang perempuan.
“Kakak yang mana?”
“Itu, yang lagi ngobrol sama genk
nya..”
“Oh, itu.. nama nya Kirana..
wakil KetOs tuh..”
“Iya ya?? koq aku gak tau??”
“Gimana mau tau,, waktu mereka
perkenalkan diri aja kamunya malah asyik ngobrol..”
“Hmp..”
“Udah yuk,, kita ke kantin aja..
nunggu bel masuk manggil..”
“Yuk!!”
Lisa dan Dina pun pergi ke
kantin. Belum lama mereka ngobrol di kantin, bel masuk telah berbunyi. Mereka
segera mencari kelas dimana mereka akan belajar.
“CHA!!!!!”, teriak Dina.
“Ada apa??? pelanin dong suara
kamu… bising tau!!”
“Aku sekelas dengan kamu..”
“Masa’?”
“Masak ya di dapur… nih ada nama
kita..”
“Wah, gak nyangka kita bisa duduk
di kelas aksel..”
Selama MOS, Lisa dan Dina mengikuti
tes untuk memasuki kelas aksel, kelas yg diidam-idamkan oleh semua siswa.
“Iya, udah, masuk yuk!!”
Lisa memilih duduk sebangku
dengan Dina. 5 menit kemudian, seorang guru memasuki kelas tersebut. Guru itu
memperkenalkan diri.
“Selamat pagi anak-anak.”, sapa
guru tersebut.
“Pagi bu..”
“Ibu disini akan menjadi wali
kelas kalian. Nama ibu, Resia Yana, panggil aja bu Resia. Sekarang, ibu akan
mengabsen nama kalian ya.”
Setelah mengisi buku absen, bu
Ana memilih anggota struktur organisasi. Ketua kelas nya adalah Rio Stevan
Raditya, wakilnya Alvino Kevin, sekretaris 1 : Lisa Amanda Volturi dan
sekretaris 2 : Dina Aurora Putri.
2 jam kemudian, bel pulang
berbunyi..
“Pulang bareng yuk!”, ajak Lisa.
“Emang kita selalu pulang bareng
kan..”, kata Dina.
“Haha.. iya.”
“Stress nih anak..”
“Tapi, temenin aku dulu ya ke
toko buku, adekku minta beliin buku cerita..”
“Okeh dehhh.”
Di dalam mobil, mereka berdua
asyik ngobrol.
“Cha, hati-hati ya bawa
mobilnya..”
“Iya, tenang aja.”
Tanpa disadari, baru selesai Lisa
mengomentari pesan Dina, Lisa telah menabrak mobil yg ada didepannya dan
mengakibatkan Dina terluka parah, Lisa hanya mengalami luka ringan di bagian
kakinya. Dina segera dibawa ke rumah sakit terdekat. Setelah menunggu lama,
dokter yang memeriksa Dina pun keluar.
“Dok, gimana keadaan temen saya??
apa dia baik-baik aja??”, tanya Lisa ditemani oleh air matanya.
“Keadaan teman kamu saat ini
masih kritis, kedua ginjalnya lemah.”
“Apa?? kedua ginjalnya?? Dok,
tolong sembuhin temen saya, tolong!!!”
“Kami akan berusaha mencari
ginjal untuknya..”
Dokter itu pun pergi..
Dalam hati, Lisa berkata.. “ini
semua salahku.. ini semua salahku.. kenapa ini harus terjadi.. kenapa harus Dina
yg jadi korbannya..”
Dina masih dalam keadaan koma,
hari kedua, masih koma, dan begitulah sampai Lisa pindah ke Bandung mengikuti
orang tuanya..
2 minggu kemudian..
Dina telah sadar.. selama Lisa pindah,
hanya Cika, Rio dan Vino lah yang selalu setia menemaninya.. dengan lemahnya, Dina
berkata..
“Lisa...”
“Na, kamu udah sadar?..”
“Lisa...”
“Na, Cha udah pindah ke
Bandung..”
“Lisa..”
Cika segera memanggil dokter...
dokter pun datang untuk memeriksa Dina..
Setelah itu, Dina kembali
tertidur.
Keesokan harinya..
Dina udah agak sehat, tapi dia
harus duduk di kursi roda.. selama ia berada di dalam kamar bersama Cika, Rio
dan Vino, hanya Lisa lah yg selalu ia tanya..
“Na, Cha udah pindah ke Bandung
bersama orang tuanya.”, jelas Cika.
“Kenapa Cha-Cha pergi ninggalin
aku??”
“Dia bukan mau ninggalin kamu,
tapi dia kan patuh sama orang tuanya, jadi dia ikut pindah ke Bandung, lagi
pula kalo dia tetep tinggal disini, dia mau tinggal sama siapa coba..”
“Cha-Cha jahat!!!!!!”
“Na, tenang dong.. kamu harus
ngerti..”
“Cha,, aku benci kamu!!!!!!!!”
***
“Cha-Cha????”, Cika kaget setelah
membuka pintu rumahnya yg daritadi diketok sama Lisa.
“Cika, apa bener, selama aku
pindah ke Bandung, kamu yang udah jagain Dina??”
“Iya, kenapa??”
“Sekarang dia masih disini??”
“Dia nya udah pindah..”
“Pindah??? Pindah kemana??”
“Pindah ke Jogja..”
“Ada yang udah nge-donorin
ginjalnya untuk Dina??”
“Belum Cha..”
Lisa langsung pergi..
Setelah sampai di Jogja, Lisa mencari
dimana rumah Dina. Setelah lama mencari, akhirnya Lisa mendapatkan alamat rumah
Dina.. Lisa segera pergi ke rumah Dina..
Sesampainya di rumah Dina..
“Bi, Dina nya ada??”
“Ada non,, dia lagi di
kamarnya..”
“Makasih ya Bi..”
Lisa bingung mencari kamar Dina,
tapi akhirnya dapet juga.. Lisa mengetuk pintu kamar Dina..
“Masuk..”, kata Dina dengan suara
yg lemah.
“Dina...”
“Cha,, keluar!! Aku gak mau liat
kamu lagi.. kamu jahat!!!!!!”, teriak Dina saat mengetahui bahwa orang itu
adalah Lisa..
“Apa salahku?? Kenapa kamu jadi
begini??”
“Kamu udah pergi ninggalin aku..”
“Bukan itu Na, aku gak bermaksud
ninggalin kamu..”
“Aku gak mau denger alasan kamu..
sekarang juga keluar..!!!!!”, teriak Dina lagi..
Mau gak mau, Lisa pun keluar dari
rumah Dina..
Suatu saat, Dina siap dioperasi
karna telah menemukan pendonor ginjal untuknya..
Seminggu setelah Dina dioperasi..
Sepucuk surat datang utk Dina, Dina membuka amplop dan membacanya..
Ternyata surat itu dari Lisa..
isi suratnya adalah..
~ Untuk Dina Sahabatku,
Maafkan aku karna aku pergi
tanpa pamit..
Sebenarnya, maksud
kepindahanku ke Bandung adalah untuk membantu kamu mencari orang yang mau
mendonorkan ginjalnya untuk kamu.. setelah 3 bulan mencari, akhirnya aku
menemukannya.. dan orang itu adalah aku.. aku harap, ginjalku cocok untuk
kamu.. semoga setelah dioperasi, kamu bisa kembali seperti Dina yang dulu
lagi.. Dina yang selalu ceria dan suka menghibur teman.. pesanku yang terakhir
adalah lewatilah hari-harimu yang indah bersama teman-teman yang lain, jangan
pernah bersedih hanya gara-gara aku..
Selamat Tinggal Sahabatku..
From ::
Lisa (Cha-Cha) ~
Dina pun menangis setelah membaca
surat dari Lisa yang terakhir. Dina menyesal karna telah membentak dan mengusir
Lisa di pertemuan terakhir mereka. Dalam benaknya, hanyalah tersirat kata-kata
“Lisa, kamulah sahabat pertamaku, sahabat terbaikku dan sahabat sejatiku.. tak
akan ada seorang pun yang bisa menggantikan kamu..”
Dina menjalani hari-hari indahnya
tanpa Lisa. Tapi ia tidak sendiri, Cika dan teman-teman lainnya pun selalu
menemaninya.
Dalam hati Dina berkata, “Lisa, semoga kamu selalu bahagia
disana..”
">.< THE END >.<"

No comments:
Post a Comment