Monday, 30 January 2012

Cerpen .. " Pengorbanan Sahabat Sejati "


Pengorbanan Sahabat Sejati


 Pagi yang cerah menyelimuti hari Lisa dan Dina. Hari ini adalah hari pertama mereka menyelesaikan MOS yg diadakan selama 1 minggu di SMA Harapan Bangsa. Mereka sangat senang karna bisa diterima di SMA favorit ini. Hanya orang-orang pintar lah yang diterima di sekolah ini.
“Cha (nama panggilan Lisa)..”, panggil Dina.
“Iya, ada apa?”, tanya Lisa.
“Kamu tau gak nama kakak yang itu?”, tanya Dina sambil menunjuk ke arah seorang perempuan.
“Kakak yang mana?”
“Itu, yang lagi ngobrol sama genk nya..”
“Oh, itu.. nama nya Kirana.. wakil KetOs tuh..”
“Iya ya?? koq aku gak tau??”
“Gimana mau tau,, waktu mereka perkenalkan diri aja kamunya malah asyik ngobrol..”
“Hmp..”
“Udah yuk,, kita ke kantin aja.. nunggu bel masuk manggil..”
“Yuk!!”
Lisa dan Dina pun pergi ke kantin. Belum lama mereka ngobrol di kantin, bel masuk telah berbunyi. Mereka segera mencari kelas dimana mereka akan belajar.
“CHA!!!!!”, teriak Dina.
“Ada apa??? pelanin dong suara kamu… bising tau!!”
“Aku sekelas dengan kamu..”
“Masa’?”
“Masak ya di dapur… nih ada nama kita..”
“Wah, gak nyangka kita bisa duduk di kelas aksel..”
Selama MOS, Lisa dan Dina mengikuti tes untuk memasuki kelas aksel, kelas yg diidam-idamkan oleh semua siswa.
“Iya, udah, masuk yuk!!”
Lisa memilih duduk sebangku dengan Dina. 5 menit kemudian, seorang guru memasuki kelas tersebut. Guru itu memperkenalkan diri.
“Selamat pagi anak-anak.”, sapa guru tersebut.
“Pagi bu..”
“Ibu disini akan menjadi wali kelas kalian. Nama ibu, Resia Yana, panggil aja bu Resia. Sekarang, ibu akan mengabsen nama kalian ya.”
Setelah mengisi buku absen, bu Ana memilih anggota struktur organisasi. Ketua kelas nya adalah Rio Stevan Raditya, wakilnya Alvino Kevin, sekretaris 1 : Lisa Amanda Volturi dan sekretaris 2 : Dina Aurora Putri.
2 jam kemudian, bel pulang berbunyi..
“Pulang bareng yuk!”, ajak Lisa.
“Emang kita selalu pulang bareng kan..”, kata Dina.
“Haha.. iya.”
“Stress nih anak..”
“Tapi, temenin aku dulu ya ke toko buku, adekku minta beliin buku cerita..”
“Okeh dehhh.”
Di dalam mobil, mereka berdua asyik ngobrol.
“Cha, hati-hati ya bawa mobilnya..”
“Iya, tenang aja.”
Tanpa disadari, baru selesai Lisa mengomentari pesan Dina, Lisa telah menabrak mobil yg ada didepannya dan mengakibatkan Dina terluka parah, Lisa hanya mengalami luka ringan di bagian kakinya. Dina segera dibawa ke rumah sakit terdekat. Setelah menunggu lama, dokter yang memeriksa Dina pun keluar.
“Dok, gimana keadaan temen saya?? apa dia baik-baik aja??”, tanya Lisa ditemani oleh air matanya.
“Keadaan teman kamu saat ini masih kritis, kedua ginjalnya lemah.”
“Apa?? kedua ginjalnya?? Dok, tolong sembuhin temen saya, tolong!!!”
“Kami akan berusaha mencari ginjal untuknya..”
Dokter itu pun pergi..
Dalam hati, Lisa berkata.. “ini semua salahku.. ini semua salahku.. kenapa ini harus terjadi.. kenapa harus Dina yg jadi korbannya..”
Dina masih dalam keadaan koma, hari kedua, masih koma, dan begitulah sampai Lisa pindah ke Bandung mengikuti orang tuanya..
2 minggu kemudian..
Dina telah sadar.. selama Lisa pindah, hanya Cika, Rio dan Vino lah yang selalu setia menemaninya.. dengan lemahnya, Dina berkata..
“Lisa...”
“Na, kamu udah sadar?..”
“Lisa...”
“Na, Cha udah pindah ke Bandung..”
“Lisa..”
Cika segera memanggil dokter... dokter pun datang untuk memeriksa Dina..
Setelah itu, Dina kembali tertidur.
Keesokan harinya..
Dina udah agak sehat, tapi dia harus duduk di kursi roda.. selama ia berada di dalam kamar bersama Cika, Rio dan Vino, hanya Lisa lah yg selalu ia tanya..
“Na, Cha udah pindah ke Bandung bersama orang tuanya.”, jelas Cika.
“Kenapa Cha-Cha pergi ninggalin aku??”
“Dia bukan mau ninggalin kamu, tapi dia kan patuh sama orang tuanya, jadi dia ikut pindah ke Bandung, lagi pula kalo dia tetep tinggal disini, dia mau tinggal sama siapa coba..”
“Cha-Cha jahat!!!!!!”
“Na, tenang dong.. kamu harus ngerti..”
“Cha,, aku benci kamu!!!!!!!!”
***
“Cha-Cha????”, Cika kaget setelah membuka pintu rumahnya yg daritadi diketok sama Lisa.
“Cika, apa bener, selama aku pindah ke Bandung, kamu yang udah jagain Dina??”
“Iya, kenapa??”
“Sekarang dia masih disini??”
“Dia nya udah pindah..”
“Pindah??? Pindah kemana??”
“Pindah ke Jogja..”
“Ada yang udah nge-donorin ginjalnya untuk Dina??”
“Belum Cha..”
Lisa langsung pergi..
Setelah sampai di Jogja, Lisa mencari dimana rumah Dina. Setelah lama mencari, akhirnya Lisa mendapatkan alamat rumah Dina.. Lisa segera pergi ke rumah Dina..
Sesampainya di rumah Dina..
“Bi, Dina nya ada??”
“Ada non,, dia lagi di kamarnya..”
“Makasih ya Bi..”
Lisa bingung mencari kamar Dina, tapi akhirnya dapet juga.. Lisa mengetuk pintu kamar Dina..
“Masuk..”, kata Dina dengan suara yg lemah.
“Dina...”
“Cha,, keluar!! Aku gak mau liat kamu lagi.. kamu jahat!!!!!!”, teriak Dina saat mengetahui bahwa orang itu adalah Lisa..
“Apa salahku?? Kenapa kamu jadi begini??”
“Kamu udah pergi ninggalin aku..”
“Bukan itu Na, aku gak bermaksud ninggalin kamu..”
“Aku gak mau denger alasan kamu.. sekarang juga keluar..!!!!!”, teriak Dina lagi..
Mau gak mau, Lisa pun keluar dari rumah Dina..
Suatu saat, Dina siap dioperasi karna telah menemukan pendonor ginjal untuknya..
Seminggu setelah Dina dioperasi.. Sepucuk surat datang utk Dina, Dina membuka amplop dan membacanya..
Ternyata surat itu dari Lisa.. isi suratnya adalah..

~ Untuk Dina Sahabatku,
Maafkan aku karna aku pergi tanpa pamit..
Sebenarnya, maksud kepindahanku ke Bandung adalah untuk membantu kamu mencari orang yang mau mendonorkan ginjalnya untuk kamu.. setelah 3 bulan mencari, akhirnya aku menemukannya.. dan orang itu adalah aku.. aku harap, ginjalku cocok untuk kamu.. semoga setelah dioperasi, kamu bisa kembali seperti Dina yang dulu lagi.. Dina yang selalu ceria dan suka menghibur teman.. pesanku yang terakhir adalah lewatilah hari-harimu yang indah bersama teman-teman yang lain, jangan pernah bersedih hanya gara-gara aku..
Selamat Tinggal Sahabatku..

From ::
Lisa (Cha-Cha) ~

Dina pun menangis setelah membaca surat dari Lisa yang terakhir. Dina menyesal karna telah membentak dan mengusir Lisa di pertemuan terakhir mereka. Dalam benaknya, hanyalah tersirat kata-kata “Lisa, kamulah sahabat pertamaku, sahabat terbaikku dan sahabat sejatiku.. tak akan ada seorang pun yang bisa menggantikan kamu..”
Dina menjalani hari-hari indahnya tanpa Lisa. Tapi ia tidak sendiri, Cika dan teman-teman lainnya pun selalu menemaninya.
Dalam hati Dina berkata, “Lisa, semoga kamu selalu bahagia disana..”



">.< THE END >.<"

No comments:

Post a Comment